Ada satu kata yang selalu saya pertanyakan apakah saya mampu menyatakannya—atau kata tersebut hanya tenggelam sebagai suatu wacana belaka.
Terima kasih.
Atas segalanya—hal yang disengaja maupun terlupa. Atas luka maupun bahagia. Segalanya.
Terima kasih telah hidup di dunia ini, meskipun saya tahu bagaimana rasa benci yang kau simpan pada dirimu sendiri tapi kau tetap bertahan. Terima kasih, saya bersyukur kamu ada di masa hidup yang sama dengan saya.
Terima kasih telah memanusiakan saya. Terima kasih untuk tidak membenci saya (barangkali hanya hingga saat tertentu saja, barangkali saya sekarang sudah dibenci). Terima kasih telah menemani di salah satu fragmen terendah dalam hidup saya. Terima kasih sudah sudi meluangkan waktu untuk direpotkan dan terganggu oleh urusan saya yang sebenarnya sangat tidak penting bagimu.
Terima kasih.
Banyak yang saya pertanyakan tapi saya terlalu takut, sehingga pilihan paling egois yang saya ambil adalah memilih untuk bungkam. Bungkam karena merasa lebih baik tidak tahu apa-apa, lalu menghilang dalam kehampaan. Diam, seakan semua terlewati begitu saja tanpa memberikan pengaruh apapun dalam sunyi. Berpura-pura, kemudian lenyap.
Saya tidak tahu apa yang saya cari, bahkan saya tidak mengerti apa yang saya hindari selain diri sendiri—karena saya adalah monster bagi diri saya maupun siapapun. Saya hanya ingin hilang bagai ditelan bumi. Hilang tanpa jejak seakan tidak pernah dilahirkan. Hilang, tanpa disadari siapapun. Hilang, tanpa bertanya apapun. Hilang, tanpa mengetahui apapun.
Saya belajar dari kesalahan tersebut. Mau berlari sekencang apapun bayangan itu tetap nyata adanya. Pelan-pelan mengikutimu, selalu ada. Tidak akan pernah hilang. Dalam realita, saya tidak bisa melenyapkan segala hal yang ingin saya hempaskan jauh. Akan selalu ada, mau tidak mau—selalu ada.
Saya hanya bisa bilang maaf meski sesungguhnya hadirnya saya sendiri pun merupakan suatu kesalahan. Maaf sudah mengganggu hidupmu.
Namun waktu tidak bisa terulang, pun jika bisa diulang—saya tidak ingin mengubah apapun.
—terdengar egois? Iya, saya minta maaf.
Guru terbaik dalam hidup adalah luka dan pengalaman. Sesuatu yang bisa dirasakan nyata, bukan sekadar teori belaka. Sesuatu yang bisa diingat seumur hidup tanpa terlupa meskipun berusaha sekuat tenaga. Dan kamu, adalah pembelajaran terbaik dalam hidup saya hingga detik ini.
Sekali lagi, terima kasih.
Semoga hidupmu selalu dipenuhi keberkahan. Saya hanya berharap—di luar kenyataan saya tidak tahu apakah kamu masih percaya atau tidak—semoga Tuhan selalu melindungi serta memberikan cahaya terindahnya untuk setiap langkah hidupmu, hingga selalu tenang jiwa maupun ragamu.
Selamat hari jadi.


0 comments:
Post a Comment